Selasa, 29 Maret 2022

Spiral Model

Definisi

   Model Spiral adalah model proses pengembangan perangkat lunak berbasis risiko. Model Spiral merupakan penggabungan dari model prototyping dan model waterfall. Model Spiral membantu mengadopsi elemen pengembangan perangkat lunak dari berbagai model proses untuk proyek perangkat lunak berdasarkan pola risiko unik yang memastikan proses pengembangan yang efisien.
   Model Spiral dalam rekayasa perangkat lunak pertama kali disebutkan oleh Barry Boehm dalam makalahnya tahun 1986. Proses pada model spiral direpresentasikan sebagai model spiral (bukan berupa barisan aktifitas yang dapat di-track mundur). Setiap loop dalam model spiral menyatakan fase proses, tidak terdapat fase tertentu seperti spesifikasi atau perancangan, tetapi loop dalam spiral ditentukan pada apa yang dibutuhkan. Setiap fase model spiral dalam rekayasa perangkat lunak dimulai dengan tujuan desain dan diakhiri dengan tinjauan kemajuan klien. 
    Fungsi model spiral adalah untuk melakukan perubahan, penambahan dan pengembangan perangkat lunak dengan memaksimalkan aspek kecepatan dan ketepatan berdasarkan keinginan dan kebutuhan penggunanya.

Process / Step by Step

    Dalam penerapan Model Spiral, terdapat lima tahapan untuk merealisasikan penggunaannya, yaitu sebagai berikut :


1. Tahap Liason

Tahap ini berhubungan dengan komunikasi antara pihak-pihak yang terlibat dalam pengembangan softaware (seperti: system analyst) dengan pelanggan (user). Tujuannya adalah memperbaiki dan mengembangan software sesuai kebutuhan dan keinginan hingga memuaskan pelanggan. 

2. Tahap Planning
 
Tahap perencanaan meliputi estimasi biaya yang digunakan, batas waktu, pengaturan jadwal, identifikasi lingkungan kerja, sumber-sumber informasi untuk melakukan iterasi (Teknik perulangan). Hasil dari tahapan ini adalah dokumen spesifikasi kebutuhan sistem dan bisnis.

3. Tahap Analisis Risiko

Tahap analisis risiko berfungsi untuk mengidentifikasi risiko yang berpotensi akan terjadi dan menghasilkan solusi alternatif secara teknis dan manajemen saat strategi mitigasi (upaya untuk mengurangi risiko bencana) direncanakan dan diselesaikan.

4. Tahapan Rekayasa (Engineering)

Pada tahap rekayasa, beberapa kegiatan ini yang akan dilakukan, yaitu:
  • Menguji, coding dan mengembangkan software
  • Menginstal software
  • Membuat prototype
  • Mendesain dokumen
  • Meringkas suatu pengujian software
  • Membuat laporan atas kekurangan dari software agar segera diperbaiki

5. Tahap Evaluasi

Pada tahap evaluasi, system analyst membutuhkan masukan dan tanggapan dari para user dalam mengevaluasi perangkat/produk yang diuji dan memastikan bahwa produk dibutuhkan sesuai ketentuan yang telah dibicarakan diawal dengan user. System analyst memastikan pelanggan puas dengan produk yang akan dihasilkan untuk menjawab persoalan bisnis mereka. Selain itu, system analyst harus tetap memantau risiko yang akan terjadi seperti faktor-faktor yang dapat menyebabkan cost overrun (pembengkakan biaya).

Kelebihan dan Kekurangan dari Model Spiral

a. Kelebihan dalam menggunakan model spiral :
  • Pembangunan dan perubahan perangkat lunak yang terjadi dapat diselesaikan secara sistematis
  • Mudah dalam mengestimasi biaya karena proses pembuatan prototype yang jelas dan terencana dalam tahapan yang sistematis
  • Manajemen dan analisa risiko yang lebih cepat dan mudah
  • Mudah dalam melakukan perubahan kebutuhan dan dokumentasi
  • Produksi software bisa terjadi lebih cepat
b. Kekurangan dalam menggunakan model spiral :
  • Tidak cocok dan sulit diimplementasikan dalam projek kecil
  • Memakan waktu yang cukup lama
  • Membutuhkan best practice atau pengalaman sebelumnya karena proses yang sangat kompleks
  • Risiko dalam tahap planning cukup besar. Misalnya terjadi perbedaan dalam jadwal pengembangan dan anggaran belanja.


0 komentar:

Posting Komentar